Pages

Telaah Referensi



Telaah Referensi Filsafat dan Idiologi Pendidikan

Dibuat dalam rangka memehuhi tugas Methots of Mathematics Intrucsion
Dosen : Prof. Dr. Marsigit M.A

Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat manusia dalam bentuk-bentuk ideologi. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu bangsa.
Filsafat adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir manusia. Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam. Sedangkan ideology Pendidikan adalah sebuah konsep. Sehingga filsafat dan ideology itu tidak dapat di pisahkan dalam pendidikan.
Filsafat dan ideology ini berasal dari pikiran dan pengalaman. Dari filsafat dan ideology pendidikan kita mendapatkan :
a.       Teori atau Paradigma belajar yang merupakan kisi – kisi pendidikan, dengan pembelajaran scientific teori atau paradigm itu dapat dikembangkan menjadi strategi atau metode atau model pembelajaran (indicator). Sehigga dengan metode scientific juga kita memperoleh perangkat, pembelajaran, RPP, LKS, teks book, Assesment, ICT.
b.      Sistem Pendidikan Nasional atau kebijakan pendidikan (kisi-kisi), dari situ kita juga mendapatkan strategi atau model atau metode pembelajaran sehingga kita kan mendapatkan perangkat, pembelajaran, RPP, LKS, teks book, Assesment, ICT.
Dari dua hal itu kita dapat membuat lembar observasi pembelajaran yang akan menunjukan hasil dari proses pembelajaran yang telah kita lakukan selama kegiatan belajar mengajar .

/http://powermathematics.blogspot.com/

Pembelajaran Matematika

Refleksi

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Methods of Mathematics Instruction

Dosen : Prof. Dr. Marsigit. M.A

Proses Pembelajaran


Proses pembelajaran siswa di pengaruhi oleh :

a. Budaya (Pengetahuan Intuitif)

b. Konteks pembelajaran.

c. Lingkungan belajar.

d. Variasi sumber belajar mengajar atau media pembelajaran (Ethnomathematics).

e. Subjek belajar siswa yang diantaranya :

       1. Learning trajectory (LT) yang akan menghasilkan skema pencapaian konsep (Rantai Kognitif)

       2.  Alur pikiran siswa

       3. Cara belajar siswa

Kegiatan pembelajaran di pengaruhi oleh :

a. Buku dan jurnal.

b. Metode pembelajaran

dua hal diatas sering di sebut ideal teori. kemudian juga di pengaruhi oleh :

c. Solusi transisi

d.HRD guru.

e. Subjek formal yaitu kurikulum 2013 yang bersifat scientifik yang menekankan pada metode, model, dan pendekatan.


Metode pembelajaran scientifik diantaranya :

a. mengawasi

b. menanya

c. mencoba.

d. mengasosiasi

d. mengkomunikasika


Dari sini dapat kita lihat bahwa ada yang bersifat ideal dan ada yang bersifat wajib. kemudian, paradigmanya adalah dari filsafat ke teori baru kemudian ke pembelajaran.

http://powermathematics.blogspot.com






TUGAS ESP 4 - CERIA ANDESPI/12313244006/ INTERNATIONAL MATHEMATICS EDUCATION



RINGKASAN DALAM BAHASA INDONESIA
Menggunakan Penalaran Covariation untuk Mendukung Modeling Matematika

Bagi banyak siswa, membuat koneksi antara ide-ide matematika dan nyata dunia adalah salah satu yang paling menarik dan aspek berharga dari studi matematika. Dalam Standar Negara Inti Umum Matematika (CCSSI 2010), matematika pemodelan disorot sebagai praktek matematika standar untuk semua nilai. Untuk terlibat dalam matematika modeling, mulai siswa aljabar harus belajar untuk menggunakan pemahaman mereka tentang operasi aritmatika untuk mengerti masalah berhubungan dengan pembuatan pengertian fungsi yang diwakili oleh persamaan, tabel, dan grafik. Selanjutnya, kemampuan untuk berpikir dengan jumlah serta angka adalah kapasitas penting untuk siswa untuk mengembangkan.
Kuantitas konsepsi hal-hal yang dapat diukur, seperti jarak atau waktu. mengukur kuantitas yang memiliki unit yang ditetapkan dan proses untuk menetapkan nomor yang mewakili proporsional hubungan antara nilai tertentu kuantitas dan unit (Thompson 2011). Penalaran kuantitatif berbeda dari numerik penalaran karena penalaran kuantitatif melibatkan gambaran mental yang jelas tentang bagaimana kuantitas terkait (Thompson 2011). Seseorang yang secara kuantitatif memahami kecepatan rata-rata pelari cepat yang berjalan 100 meter dalam 4 detik mungkin membayangkan 100 meter track dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing Panjang 25 meter, dan kemudian membayangkan runner melintasi satu bagian pada setiap detik. oleh Sebaliknya, jika siswa menghitung 100 m / 4 s = 25 m / s,
mereka mungkin hanya mengerti hubungan aritmatika antara angka 100, 4, dan 25 tanpa
memahami mengapa membagi 100 dengan 4 masuk akal dalam hal ini. Penalaran kuantitatif adalah sumber daya utama bagi siswa yang belajar menggunakan aljabar untuk model hubungan antara jumlah yang bervariasi. Dua jenis kuantitatif penalaran memiliki relevansi khusus untuk memulai aljabar siswa. korespondensi penawaran perspektif dengan Pertanyaannya, Bagaimana satu kuantitas
berhubungan dengan yang lain? Sebuah korespondensi pemahaman kecepatan dapat
dinyatakan sebagai aturan yang berhubungan setiap nilai waktu dengan nilai unik untuk jarak, seperti persamaan y = 25x, di mana x mewakili waktu dan y mewakili jarak.
Dari materi ini,yang paling menarik adalah diskusi sesi dua, di sini Ms. Holmes menekankan kepada mahasiswa untukmenjelaskan cara piker mereka dan menawarkan siswa tandingan ketika siswa meneak salah. Dengan cara ini, siswa dapat memungkinkan pemikiran mereka dan juga dipromosikan pemikiran matematika. Kunci disini adalah urutan pertanyaan tentang kovariasi dalamkonteks masalah. Disini didapat 2 hipotesis mahasiswa bahwa nilai untuk 3 orang adalah 30 menit dan hipotesis untuk 4 orang adalah 15 menit. Mungkin, ini didapat degan memotong waktu dalam setengah setiap bertambah 1 orang baru. Di sini, mahasiawa 4 rupanya mendapat ide dan membuat kovarians yang lebih umum. Pada akhir sesi ini melibatkan mencari kembali urutan contoh. Namun, mahasiswa 5 beralasan tentang kovariansbukannya korespondensi dan diinterpretasikan" Setiap kali " berarti setiap baris baru. Dia membandingkan
setiap baris baru dengan yang sebelumnya , mengklaimwaktu itu " turun dengan setengah setiap kali . "
Sayangnya , periode yang berakhir sebelum ini siswa memiliki kesempatan untuk membedakankorespondensidan covariation penalaran tentang situasi masalah atau menemukan model matematika yang benar.



Ceria Andespi
12313244006
International Mathematics Education